Arya Dwipangga - Pendekar Syair Berdarah

Pendekar Syair Berdarah Arya Dwipangga

Arya Dwipangga adalah salah satu tokoh fiksi dalam Tutur Tinular bergelar Pendekar Syair Berdarah
Aku datang dari balik kabut hitam…aku mengarungi samudera darah…akulah pangeran kegelapan…kan ku remas matahari di telapak tanganku.. kan ku pecahkan wajah rembulan, pecah terbelah…dengan KIDUNG PAMUNGKAS …kan ku buat dunia berwarna merah
Itu adalah cuplikan syair yang dirapalkan Arya Dwipangga saat hendak mengeluarkan ajian kesaktian Kidung Pamungkasnya.
Tokoh Arya Dwipangga adalah kakak kandung dari Arya Kamandanu. Awalnya Arya Dwipangga hanyalah seorang penyair lemah yang tidak suka ilmu olah kanuragan.Namun sayangnya ia mempunyai perangai yang buruk (kebanyakan penyair mungkin sama seperti dia kali ya... :)) yaitu gemar memikat wanita cantik, meskipun itu adalah kekasih Arya Kamandanu adiknya sendiri, yaitu Nari Ratih dan Mei Shin. Inilah yang menjadi awal permusuhan antara Arya Kamandanu dan Arya Dwipangga.
Karena kelakuannya yang buruk itu, Arya Dwipangga sering berselisih faham dengan ayahnya sendiri, Mpu Hanggareksa. Arya Dwipangga juga mempunyai sifat yang licik dan pendendam. Pada suatu ketika, karena ia merasa di anak tirikan oleh ayahnya atas kelakuan buruknya itu, dan karena ia juga selalu kalah beradu fisik dengan kamandanu yang menguasai ilmu kanuragan, ia pun berkhianat kepada keluarganya, Ia melaporkan kepada perwakilan prajurit kediri bahwa dirumah ayahnya bersembunyi seorang buronan, Mei Shin. Saat itu Kerajaan Singhasari sudah runtuh dan Kerajaan Kadiri sedang berkuasa. Mei Shin menjadi buronan karena Pedangnya, Pedang Naga Puspa menjadi incaran kelompok Pendekar yang bekerja kepada pemerintahan Kediri. Maka datanglah rombongan pasukan prajurit kediri dibawah pimpinan Mpu Tong Bajil, Dewi Sambi dan teman-temannya yang kemudian memporak-porandakan dan membakar rumah Mpu Hanggareksa. Mei Shin berhasil selamat, menyelinap dan melarikan diri. Tapi ayahnya, Mpu Hanggarekasa dan pengasuh setianya, Nyi Rongkot, tewas dibantai dengan kejam dan dibakar.
Ketika Kamandanu pulang dan mengetahui kejadian ini akibat perbuatan kakaknya, Ia pun mencari Arya Dwipangga dan menghajarnya hingga Arya Dwipangga terperosok masuk kedalam jurang. Tapi ternyata di goa dalam jurang inilah, justru akhirnya Arya Dwipangga menemukan seorang guru kanuragan yang sakti mandraguna yang gemar olah sastra juga, bernama Ki Watukura. Sosok tua misterius inilah yang mengajarinya olah kanuragan, dan disinilah Arya Dwipangga menjadi sakti mandraguna, dengan ajian mautnya bernama Kidung Pamungkas. Ia pun juga mendapatkan dua pedang sakti yg berbentuk aneh menyerupai bulan, bernama Pedang Bulan Sabit Kembar.
Setelah Ki Watukura Meninggal dan Arya Dwipangga sudah mewarisi kesaktiannnya, Ia pun keluar dari jurang dan mencari Arya Kamandanu serta bertekat membalas dendam. Dalam petualangan dan amarahnya mencari Arya Kamandanu, Ia tak mengenal kawan atau lawan, Ia pun membunuh siapa saja yang ditemuinya. Sebelum bertarung, ia selalu melantunkan syair-syair yang penuh dengan daya magis, Arya Dwipangga juga selalu meninggalkan tanda pada setiap korban yang dibunuhnya dengan tulisan Pendekar Syair berdarah.
Jangan ada suara kalau syairku sedang bicara
Karena suaraku ingin memutar balik cakra dunia
Kenapa orang bijak bicara dengan jumawa
Tidak ada yang abadi di dunia ini
Kecuali ketidak abadian itu sendiri
Padahal duka hidupku abadi
Luka hatiku abadi
Pagi mengusir malam
Siang menghardik embun
Dan malam menelan matahari juga abadi
Dari waktu ke waktu
Sampai ratusan abad sejak alam mayapada
Digelar para dewa
Dendamku pada kamandanu juga abadi
Begitu juga dendamku pada nasib juga abadi
oooh…
Akan kutebar gelembung dendam rahmawana
Menyebar keseluruh mayapada
Menutup kayangan di puncak Mahameru
Selengkapnya silahkan dibaca : 
Akhirnya, Arya Dwipangga menjadi seorang pendekar yang sangat kejam tanpa kenal ampun dan ditakuti semua orang, Ia terkenal dengan sebutan Pendekar Syair Berdarah.
Arya Dwipangga akhirnya bertemu lagi dengan Kamandanu di desa Kurawan, tempat tinggal mereka dulu. Dan kedua kakak beradik itu bertarung habis-habisan. Namun Arya Dwipangga tidak mampu mengalahkan Arya Kamandanu. Ia akhirnya melarikan diri.
Arya Dwipangga bertemu dengan Mpu Lunggah. Seperti biasa nafsu membunuhnya muncul. Namun dia tidak berdaya melawan Empu Lunggah, karena Empu Lunggah menggunakan ilmu Rajut Busana, yaitu sebuah ilmu yang dapat menghilangkan kesaktian seseorang. Arya Dwipangga kehilangan kesaktiannya. Jurus Pedang Kembar dan Kidung Pamungkas tidak berarti lagi. Tak lama kemudian mata Arya Dwipangga buta. Hal itu disebabkan karena kutukan seorang pertapa yang bernama Resi Wisambudi yang telah dibunuhnya.
Demikianlah sekelumit kisah perjalanan hidup Pendekar Syair Berdarah Arya Dwipangga yang semoga bisa menjadi cermin bagi kita dalam mengarungi dunia persilatan yang keras ini. 
Terima kasih sudah berkenan mampir dan membaca. Semoga bermanfaat.

Cerita silat lainnya

Jejak para suhu

Post a Comment