Arya Kamandanu : Tutur Tinular

Arya Kamandanu : Tutur Tinular | cerita-silat.com
Arya Kamandanu adalah tokoh utama di dalam cerita Tutur Tinular yang berasal dari desa Kurawan. Arya Kamandanu merupakan putra kedua Mpu Hanggareksa, adik kandung dari Arya Dwipangga, sosok antagonis yang menjadi musuh Arya Kamandanu baik dalam hal olah kanuragan maupun dunia percintaan. 
Arya Kamandanu digambarkan sebagai sosok pemuda yang sangat mumpuni dalam olah kanuragan, pendekar pilih tanding berjiwa ksatria yang mampu menaklukkan musuh-musuhnya, pantang mundur demi membela kebenaran, namun dilain pihak ia adalah sosok pemuda yang sangat lugu, pemalu dan sulit menaklukkan hati dan perasaannya sendiri, selalu ragu-ragu dalam mengutarakan isi hatinya terhadap seorang perempuan.

Arya Kamandanu, Mei Shin, Sakawuni, dan Nari Ratih

Arya Kamandanu dan Mei Shin
Arya Kamandanu, Nari ratih, Mei Shin dan Sakawuni

Adalah Nari Ratih, seorang gadis kembang desa Manguntur putri dari Rakriyan Wuruh, seorang bekas kepala prajurit Kerajaan Singasari, yang menjadi cinta pertama Arya Kamandanu. Meski keduanya saling jatuh cinta, Arya Kamandanu yang masih polos tidak pernah berani mengungkapkan perasaannya kepada Nari Ratih. 

Sebaliknya, Arya Dwipangga yang cukup piawai dalam olah sastra merangkai syair berhasil membuat Nari Ratih terlena dan mulai melupakan Arya Kamandanu. Cinta segitiga itu akhirnya berujung pada peristiwa di Candi Walandit, yang membuat Nari Ratih hamil di luar nikah akibat percintaannya dengan Arya Dwipangga. Kelak anak hasil hubungan Arya Dwipangga dan Nari Ratih diberi nama Panji Ketawang.


Kegagalannya menjalin cinta dengan Nari Ratih dilampiaskan Arya Kamandanu dengan berlatih ilmu kanuragan di bawah bimbingan saudara seperguruan ayahnya yang bernama Mpu Ranubhaya. Selain menguasai ilmu kanuragan tinggi, Mpu Ranubhaya juga punya kemampuan membuat pedang yang tiada banding.

Selama digembleng oleh Mpu Ranubhaya, Arya Kamandanu berhasil menguasai Aji Saepi Angin, sebuah ilmu kanuragan untuk meringankan tubuh, yang mampu membuatnya lari secepat angin. Kamandanu juga berhasil menguasai pukulan dua belas jurus Naga Puspa sampai tahap ke tiga, yang nantinya disempurnakan sampai tingkat Akhir oleh bantuan saudara seperguruan ayahnya bernama Mpu Lunggah.

Dikisahkan pada suatu saat Mpu Ranubhaya diculik oleh utusan Mongol dan dibawa berlayar ke Mongolia, sebuah kerajaan besar di bawah pimpinan Kubilai Khan. Sebagai syarat kebebasan atas dirinya yang telah menjadi tawanan, Mpu Ranubhaya menciptakan sebuah pedang pusaka bernama Nagapuspa yang sejatinya untuk Kubilai Khan tapi malah menjadi rebutan para pejabat kerajaan. Untuk menyelamatkan pedang Naga Puspa dari tangan-tangan orang berwatak jahat, Mpu Ranubhaya mempercayakan Pedang Nagapuspa tersebut kepada pasangan pendekar suami-istri yang menolongnya, bernama Lo Shi Shan dan Mei Shin. 

Kedua pasang pendekar tersebut akhirnya menjadi pelarian, berlayar dan terdampar di Tanah Jawa. Di sini mereka bertemu dengan beberapa pendekar jahat anak buah seorang Patih Kerajaan Gelang-gelang bernama Kebo Mundarang yang ingin menguasai Pedang Naga Puspa. Pada suatu pertarungan antara Lo Shi Shan dengan para pendekar jahat, Lo Shi Shan terkena Ajian Segoro Geni milik Mpu Tong Bajil, seorang tokoh sakti pemimpin pendekar jahat. Karena lukanya yang dahsyat Pendekar Lo Shi Shan akhirnya meninggal di dunia disebuah hutan dalam Candi tua. Sesaat sebelum meninggalnya Lo Shi Shan, dia sempat di tolong oleh Arya Kamandanu, yang kemudian berpesan untuk menjaga Mei Shin.

Mei Shin yang sebatang kara ditinggal suaminya kemudian mengembara bersama Arya Kamandanu. Seiring dengan waktu, kebersamaan mereka berdua menumbuhkan perasaan saling mencinta. Namun lagi-lagi Arya Dwipangga datang merusak hubungan cinta Mei Shin dan Arya Kamandanu. 
Dengan tipu daya Arya Dwipangga berhasil menodai perempuan cantik asal daratan Mongolia itu. Kelak bayi yang dilahirkan Mei Shin akibat ulah Arya Dwipangga diberi nama Ayu Wandira. 

Namun demikian, meski hatinya hancur akibat perbuatan kakaknya yang telah menodai Mei Shin, Arya Kamandanu tetap berjiwa besar dan bersedia mengambil perempuan cantik dari Mongolia itu sebagai istrinya.

Akibat ulah dwipangga yang menodai Mei Shin dan menyakiti perasaan Arya Kamandanu, kehidupan rumah tangganya dengan Nari Ratih menjadi tidak harmonis. sering terjadi pertengkaran yang berujung penyiksaan kepada Nari Ratih, hingga membuat Nari Ratih meninggal.

Arya Dwipangga yang menaruh dendam akhirnya mengkhianati keluarganya sendiri dengan melaporkan ayahnya selaku pengikut Kertanagara kepada pihak Kediri dengan tuduhan telah melindungi Mei Shin yang waktu itu menjadi buronan. Mpu Hanggareksa akhirnya tewas oleh serangan para prajurit Kediri di bawah pimpinan Mpu Tong Bajil. Sebaliknya, Arya Dwipangga si anak durhaka jatuh ke dalam jurang setelah dihajar oleh Arya Kamandanu. Kemudian Kamandanu kembali berpetualang untuk mencari Mei Shin dengan membawa keponakannya Panji Ketawang.

Dalam petualanggan mencari Mei Shin, Arya Kamandanu bertemu dengan seorang pendekar wanita bernama Sakawuni, putri seorang perwira Singhasari bernama Banyak Kapuk. Petualangannya itu juga membawanya menjadi pengikut Raden Wijaya menantu Kertanagara yang kelak menjadi Raja Majapahit.
Arya Kamandanu akhirnya bertemu dengan Mei Shin, dan dalam beberapa lama hidup bahagia bersamanya. Namun karena tugasnya sebagai pengikut Raden Wijaya, membuat Arya Kamandanu harus kembali berjuang ke medan pertempuran bersama Sakawuni dan meninggalkan Mei Shin di lereng gunung Arjuno.

Selang beberapa saat setelah ditinggal Arya Kamandanu, Mei Shin diserang kelompok Mpu Tong Bajil namun berhasil selamat berkat pertolongan seorang tabib Cina bernama Wong Yin.
Arya Kamandanu kembali kehilangan Mei Shin. Bersama Sakawuni, tak henti-hentinya kamandanu selalu mencari Mei Shin dan sempat bertemu dengannya. Sayangnya Mei Shin yang sudah menjadi tabib tidak mengakui identitas dirinya karena melihat lelaki yang dicintainya ini sudah sedemikian akrab bersama Sakawuni.

Arya Kamandanu yang putus asa akhirnya menikahi Sakawuni dan mempunyai anak bernama Jambu Nada. Sakawuni sendiri akhirnya meninggal dunia sesaat setelah melahirkan Jambu Nada. Hampir bersamaan dengan itu Raja Majapahit Prabu kertarajasa Jaya Wardana juga mangkat.

Kisah Tutur Tinular inipun berakhir dengan peristiwa pertemuan antara Arya Kamandanu dan Gajahmada. Dikisahkan setelah meninggalnya Sakawuni, Arya Kamandanu akhirnya mengundurkan diri dari Kerajaan Majapahit dengan membawa putranya yang masih bayi. Dalam perjalanan menuju lereng Gunung Arjuna inilah Jambu Nada yang masih berumur 40 hari terjatuh ke jurang karena lepas dari gendongannya saat berkuda dan berhasil diselamatkan oleh Gajahmada.

Kisah Tutur Tinular ini kemudian berlanjut dengan cerita yang serupa berjudul Mahkota Mayangkara.

Cerita silat lainnya

Jejak para suhu

Post a Comment